6.06.2008

kcb cari pemain

Neno Warisman, juri audisi pemain film Ketika Cinta Bertasbih, mencari calon pemain yang betul-betul mencintai dunia seni peran.

"Kita ingin perubahan. Bosan rasanya untuk untuk pakai 'lipstick' terus menerus. Kita mengingingkan kaderisasi orang yang betul-betul mencintai dunia seni peran, yang benar-benar menggunakan kepiawaiannya dalam dunia peran untuk melakukan sesuatu yang bagus," papar Neno, saat jumpa pers soal audisi film yang diangkat dari novel karya Habiburrahman el-Shirazy, Kamis (5/6) sore, di Jakarta.

Audisi lima pemain film ini akan segera digelar di sembilan Surabaya, Medan, Padang, Yogyakarta, Semarang, Pontianak, Bandung, Makassar, dan Jabodetabek, mulai pertengahan Juli 2008. Selain Neno, dua aktor senior, Didi Petet dan Deddy Mizwar bakal ikut dilibatkan sebagai juri dalam pencarian para pemain film ini.

Sementara, sutradara film ini, Chaerul Umam mengungkapkan, salah satu persyaratan utama bagi para calon pelamar adalah harus bisa berbahasa Arab. Setidaknya, harus bisa mengaji. "Syarat yang lebih dalam lagi, luar dalam soleh dan soleha, di luar maupun di dalam film," ujar Chaerul, terkait lima tokoh di film ini, yakni Azzam, Eliana, Furqon, Anna, dan Husna.

"Karena novelnya, saya nilai adalah sebuah novel dakwah. Maka filmnya pun akan berbentuk film dakwah. Bukan sekedar dakwah berdasarkan hasil dari film itu sendiri, tapi proses dari pembuatan film itu sendiri berdakwah.

Lebih lanjut Neno menjelaskan, cara pencarian para pemain-pemain untuk film ini dilakukan dengan dua metode, yakni hidden (tertutup) dan tertulis. Tertulis, menurut Neno, adalah jalur standar dimana seorang pemain ditetapkan untuk memerankan salah seorang tokoh dalam film ini. Lantas untuk hidden, Neno menyatakan, "ini lebih banyak mungkin kita lihat dari sisi spiritualitas dia. Apakah ada kecerdasan yang tersembunyi yang dimiliki si pemain. Tapi, dia harus memiliki karakter yang kuat."

"Salah satu (persyaratan) yang disepakati tim juri adalah, pesertanya itu harus bisa membaca Al-Qur`an. Tetapi kita juga membuka kemungkinan, dia suka kepada makna atau kebenaran," tambah Neno.

"Lebih bagus lagi jika dia bisa berbahasa prancis seperti tokoh Eliana. lalu juga yang bisa berbahasa Arab yang tidak lip sync atau tidak instan."

"Kita ingin bukan hanya bintang film, tetapi kita mau melahirkan tokoh-tokoh atau publik-publik figur yang bisa diandalkan ke masa depan. Kita kurang sekali memiliki teladan. Sebab film atau televisi adalah alat didik yang paling hebat untuk masyarakat," demikian Neno

No comments:

Post a Comment