7.31.2017

Selaksa Angin Dalam Dekapan Rindu (day 26 #30dwc)

Kamu pernah menghitung berapa ribu bintang yang ada di langit? berapa kali bulan muncul dalam satu bulan? kenapa mereka hanya muncul di malam hari?
Kamu tahu bagaimana rasanya hujan saat lagi dalam pesawat terbang? rasanya romantis yang lebih banyak mencekam, setiap rintiknya beradu dengan keselamatan yang bersahutan dengan doa yang langsung di terbangkan dengan khusu ke langit

kamu pernah menjadi angin di mimpiku, wajahmu samar dan datang menyapaku diam-diam tak terlihat tapi selalu ada. kamu pernah berjanji untuk tidak menjadi pelangi yang datang hanya sebentar kemudian pergi, layaknya hujan yang turun ke bumi kemudian berlalu begitu saja. Biarlah rindu ini kusiram dalam bait penantian

Aku memenuhi seluruh hidupmu, tapi tidak pernah kau sadari keberadaannya. Aku berusaha menyejukkanmu, kamu hanya memejamkan mata. Tidak pernah tahu keberadaanku.
Entah angin apa yang membuai hari ini membuatku begitu berani untuk mencoretkan sesuatu tentang  dirimu yang tidak pernah ku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun.  Apalagi meluapkan sesuatu yang hanya ku khususkan buatmu sebelum tiba masanya.

Lengkaplah sudah sepi ini mengurung sendiriku
Terkulai dikunyah nelangsa yang berapi-api
Menyusuri jalanan lengang
Bersimbah angan tanpa tujuan
Dalam derap gerimis yang tengah menghujam
Terbuai wajahmu menyusup bertubi-tubi
Membawa sebaris kata bahagia yg menenggelamkan nurani
Di atas pengharapan tak berkesudahan

Tentang rindu kusam
Tentang cinta terbuang
Mengutip satu namamu di antara keluh kesah
Gundah gelisah, air mata, dan lara
Masihkah ada sedikit senyum darimu

Di batas penantianku yang kini makin terbata
Jika masih ada ruang di hatimu
Untukku, sedikit saja, tolong bicaralah

Pada tanah membentang
Pada pohon-pohon rindang
Dan angin yang mengusik keangkuhan
Setidaknya biar ada tanda yg bisa kubaca dan kuraba

Janganlah sepi yang hadir
Janganlah semu yang membeku
Karena aku selalu berjalan menujumu

Tuhan, kuhadirkan dirimu dalam setiap peristiwa, dalam setiap nafas yang berhembus, terkadang caraku salah dalam bertindak.  Langkahku lunglai merapal jarak, kupastikan hadir-Mu menerangi segala gelapku, menjagaku dari tiupan angin yang bisa menjauhkanku dari-Mu

Aku diam.
Tapi suara-suara yang menggema terlalu berisik untuk tak kudengar dalam gemuruh hujan sekalipun.

Aku bergerak.
Tapi tali yang mengikat tubuhku terlalu kuat untuk meneruskan langkah walau sejengkal sekalipun.


Aku menangis.
Tapi isak yang menyesak di dada terlalu keras untuk kuhentikan meski satu tetes sekalipun.


Aku tersenyum.
Tapi bibir yang kupaksakan bergeser ke arah kanan-kiri itu terlalu kaku untuk mencipta garis lengkung yang tipis sekalipun.


Mungkin, baik-baik saja hanya sebatas kata yang kususun dalam abjad dan dibaca oleh mata. Berbicara lalu didengar setiap telinga. Tapi, lagi lagi angin menyetubuhi rindu malam ini

Bagaimana langitmu disana? masihkah Tuhan memayungi setiap sabar yang selama ini kita pertahankan? mungkin sesekali kita perlu menjadi angin, menyejukkan, menari bersama hujan dan menggantung doa sebanyak-banyaknya.
Angin mempunyai sifat selalu mengisi setiap ruangan yang kosong walaupun di tempat rumit sekalipun, kuharap kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat sekalipun di tempat yang berbeda dan rumit.

No comments:

Post a Comment