11.18.2008

dinia jodoH mergie

“Dek, kamu inget ga sama si Ini? Itu tuu..anaknya tante Itu…”

“He euh?”

“Tadi mami ketemu sama dia...wah..sekarang ganteng lho! Uda gitu, sukses lagi...Tau ga, dia itu yang…”

Love Emoticons


Jika orang tua anda memulai pembicaraan dengan awalan seperti ini, WASPADALAH , berarti Anda sedang memasuki zona DI-JO-DOH-KAN. Pembicaraan semacam ini bisa berlangsung dimana saja tergantung situasi, baik di mobil yang sedang melaju kencang, di telepon sambungan interlokal, maupun di dapur sambil ngiris bawang. Pokoknya, maksud dan tujuan dari diskusi jelas, agar kita sudi bertemu dengan pihak yang dipromosikan, sekaligus mempertimbangkan langkah kedepannya a.k.a menempuh hidup baru.

Love Emoticons

Bagi Anda yang mendapati diri terjebak dalam pembicaraan seperti di atas, hadapilah situasi dengan tenang ; perjodohan bukan momok yang mengerikan! Teringat kisah perjodohan pertama gue, ketika berusia 13 tahun, sekitar umur RA Kartini ketika mulai dipinggit. Lawan main gue adalah seorang dokter umum yang sedang mengambil spesialis di Australia. Gue masi teringat samar-samar lelaki berambut tipis yang datang dengan tante-tante yang sibuk ngomongin mas kawin. Margie ABG tentunya tidak ambil peduli dengan urusan macam begini. Bak kembang yang baru mekar kuncupnya, pikirannya masi terisi gairah untuk mencicipi manisnya embun setiap pagi. Nyokap gue aja ga ambil pusing.

Sekarang, sudah memahami mencari suami ternyata lebih sulit daripada mencari kerja, sudah pacaran tidak direstui dan tidak diketahui 2x, melihat ke 10 tahun yang lalu itu, rasanya gue agak menyesal tidak memanfaatkan kesempatan yang tak datang lagi itu, mengajarkan gue untuk tidak terlalu sinis terhadap perjodohan.

Sebagai ‘anak muda jaman sekarang’, emang sangat mengerikan mendengar praktek yang melanggar freedom of choice ini. Tapi sebenernya, perjodohan malah membantu orang tua ‘memahami’ kita.

“Kamu tuh ya kalau cari pacar yang seiman...kasian papi...”

“iya...” lalu...

“Kamu tuh kalau cari pacar jangan asal ‘sama’, harus yang mapan, jangan malah bikin susah orang tua..”

“Iya..” lalu...

“Kalau asal mapan ga ada pendidikannya juga buat apa? Ga bisa nyambung kalau ngomong”

“Iya..” lalu...

“Mapan sih mapan..tapi..ga ada apa yang mukanya mendingan dikit?”

“Enggak.”

Terkadang orang tua memang punya harapan berlebih terhadap anaknya. Seiman, tampan, berpendidikan, dermawan, kalau bisa bujangan. Lupa bahwa anaknya bukan Miss Indonesia. Buat kasus gue, lupa juga bahwa pilihan gue TERBATAS. Jeremy Thomas uda punya anak, Marcelino Lefrandt uda kawin, Steve Immanuel uda pindah agama. Biarkanlah orang tua merasakan duduk di posisi kita, bahwa mencari pria yang sempurna, TIDAKLAH MUDAH.

Seperti gue pernah bilang ke nyokap, “Mami cariin deh, kalau uda dapet yang sempurna langsung dikawinin!!”

Hingga kemarin belum ada kandidat yang pas untuk putrinya.

Lagian, mana ada si orang tua mencari bukan yang terbaik bagi anaknya? Konsep jodoh-jodohan sering diidentikan dengan model kawin paksa ala Siti Nurbaya. Padahal Siti Nurbaya sendiri engga pernah dijodohin. Di roman aslinya, bokapnya Siti Nurbaya tidak pernah memaksa Siti menikah. Justru Siti Nurbaya yang merelakan dirinya dinikahi Datuk Maringgih untuk membebaskan bokapnya dari jeratan si Datuk. Yang mana wajar aja kalau seorang anak pengen menyelamatkan bokapnya. Kebanyakan jodoh-jodohan itu sbenernya cuma yaa...coba aja temenan..sapa tau cocok...

Kalau memang ternyata emang cocok, masa rezeki ditolak...idealis dhe...itung-itung hemat energi, ga pake pusing, ga cape cape PDKT, ga pake acara pacaran pake patah hati cape hati, serahkan ke tangan ahlinya! Nyokap gue bahkan pernah menjodohkan gue dengan seorang pria bewajah Jay Zhou, asli Korea Selatan, yang tentunya gue sambut gembira meski ngomongnya patah-patah dan emailnya ga bisa ditulis pake keyboard normal

Tapi stuju juga, meski orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya, bukan berarti mereka akan mendapatkan yang terbaik itu. Buktinya, kembali ke percakapan awal....

“Yah kenalan aja mumpung kamu nanti disini, siapa tau cocok, Cuma berarti, katolik lagi..wah..masalah lagi..apalagi agamanya kuat..pasti ga mau ngalah..”

“Emang bukan katolik?”

“Bukan...”

“Hah?!”

Inilah paradoks jodoh...

Animated Emoticons


3 comments:

  1. he...2x jika sukar cari jodoh ama aku aja..... gimana..?

    ReplyDelete
  2. Maya, Ada PR dan Awward buat kamu
    buka di sini yah
    http://ardiz.blogspot.com/2008/12/pr-tag-review-plus-award.html

    ReplyDelete
  3. @ASYEHUL : HOHOHOH
    @k'ardiz : siap

    ReplyDelete