3.01.2017

senja di negeri rantau (#30DWC Hari ke-29)


Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
—  Imam Syafii
Nama saya Andi mayada, seorang gadis keturunan bugis bone yang kebetulan lahir di palembang dan menetap di jakarta, sepintas dari logat orang akan berfikir saya berasal dari jawa dan bisa menjadi orang medan saat sedang marah, karena suara saya begitu besar (hahaha)

Tahun 2011, saya memutuskan untuk menetap di belanda, jauh dari keluarga mengajarkan saya arti kebersamaan. Merantau itu melatih kedewasaan, mengajarkan perbedaan. tepatnya di desa Giethoorn yang berada bagian utara. Banyak yang menyebut desa ini sebagai “Venice of the Netherlands” alias Venice-nya Blanda dan tidak memiliki jalan, hanya kanal. Jadi bepergian dengan perahu adalah cara utama untuk berkeliling di desa ini. Desa terkenal karena hal unik. anda tidak akan menemukan mobil atau bus, atau alat transportasi modern di sini sama sekali.

Desa ini didirikan pada tahun 1230 oleh sekelompok pengungsi dari selatan, yang datang ke daerah ini untuk mencari pemukiman baru. Ketika mereka pertama kali tiba di sini, mereka kagum dengan jumlah tanduk kambing yang tersisa setelah banjir besar. Itulah sebabnya tempat ini dinamakan 'Giethoorn' yang berarti tanduk kambing.
Meskipun nggak ada jalan, tapi tenang saja. Kapal kayu sudah siap siaga untuk mengantarmu mengelilingi Desa Giethoorn.

Tanpa asap kendaraan bermotor, bisa dipastikan bahwa udara di desa ini begitu bersih dan menyegarkan, sangat berbeda dengan ibu kota tercinta kita yang polusi bisa menjadi sarapan harian pengguna jalan di jakarta.

Walaupun tinggal di negri dongeng,  negri yang begitu tenang, saking tenangnya, suara paling berisik yang terdengar di desa ini adalah suara bebek dan kicauan burung. Saya selalu merindukan indonesia, bagiku indonesia lebih baik karena masyarakatnya yang begitu welcome, persaudaraan yang begitu kental. walau terkadang setiap saya membaca berita di media, yang selalu disajikan membuat dahi ini mengkerut dan membosankan. entah kenapa  media kita masih memakai teori kuno berbunyi, “A Bad News is a Good News”. Padahal Indonesia itu punya keindahan yang sangat banyak, dan saya sangat percaya itu.

Sejak kecil, saya sudah diajarkan bagaimana menghormati orang yang lebih tua dari kita, diajarkan cara berbicara yang sopan, pengenalan ilmu agama sampai sikap toleransi terhadap agama lain. Indonesia itu kaya akan budaya, bahasa, ada istiadat dll.
Dari kecil saya sudah merantau, menaklukkan musim salju dengan jaket seadanya, menikmati negri dongeng, berteman dengan orang yang berasal dari berbagai negara, tapi bagiku indonesia tetaplah rumah yang selalu membuat saya rindu, mengingatkan akan jalan pulang dan keluarga yang sangat hangat. 

Soreh ini, langit seakan membisikkan kerinduan pada indonesia, saya tidak perduli dengan berita yang seolah membuat negeriku mulai kehilangan jati  diri dengan keramahannya. Dalam hati ribuan doa kupanjat dan semoga saja indonesia lebih baik setelah ini.







No comments:

Post a Comment