7.14.2017

Sekat yang jatuh (day 9 #30dwc)


Saat ini ada kesunyian yang merongga saat kau tak muncul, aku beringsut menjenguk ruang hatiku, ada perasaan yang tak bernada, debur kerinduan yang purna, mencoba padamkan lara dan menumbuhkan pengertian yang tak bersua, penghayatan atas keterpisahan ini ada Allah diantara kita.

Sebelummu aku tak punya waktu membagi gelisah kecuali dengan dinding dan remang lampu. Atau lewat satu dua larik puisi. Tak kujadikan pilihan untuk bergelantungan di lengan siapapun, Sayang. Lalu kuberanikan hati membuka diri. Meski aku tahu betul, sudah kaulakukan sebelumku. Sebab itu aku ragu, sanggupkah aku berbaring di pelukmu: tempat singgah bekas wanita lain. Sebab itu aku ragu, berlama-lama berbalas tatap denganmu. Tapi kau tahu, aku sudah mencintaimu.

Rindu selalu jadi alasan untuk pulang. Bermain-main senyum dengan bibirmu. Menikmati pecah udara yang menggantung pada setengah daun pintu yang terbuka. Melucuti satu-persatu resah di tubuhmu; di benakku. Di genggammu aku ingin. Dalam dekapmu luruh seluruhku. Bisakah kau rasakan gema napasku menyengal di tengkukmu? Bisa kau baca bola mataku tak seutuhnya jatuh tepat di retinamu? Mengapa masih ada ia dalam gambarmu, bagaimana mungkin masih bisa kuciumi aromanya melekat di semuamu?

Salahkan aku yang tak rela mengetahui segalamu pernah jadi milik wanita lain di ruang yang sama. Sayang, izinkan aku berandai-andai. Relakah kiranya bila aku yang ternyata pernah terlebih dulu direngkuhi cumbu dalam rayu sebelummu. Atau dijamahi rindu masa lalu. Salahkan aku yang tak juga melupa dustamu merebak luka di jantungku. Tapi kau tahu, aku tetap mencintaimu.


Sadarkah…. sekat itu sepertinya mulai jatuh, dan tak adil rasanya mengingkari perasaan ini, membuat Tuhan cemburu dan menikmati rasa sendiri
Seandainya saja kau bisa mengerti, aku hanya seorang yang sama sekali gak bisa mendefinisikan perasaan, mengharap cinta dari-Nya dan berharap kau lebih mendekatkan cintaku kepada-Nya, mengingatkanku, menegurku bahkan menolongku ketika kumulai FUTUR..bukan membiarkanku menikmati sendiri rasa ini

Memaksakan hati memang sulit, tapi semoga masih ada sisa untuk selalu istiqomah dijalan-Nya.


Sendainya kepercayaan punya dua nyawa dalam satu jiwa, pasti aku masih punya cadangannya untuk kuberikan dengan mudah untuk kau jaga sekali lagi. Aku saja yang bersujud satu shaf di belakangmu.
Apa tak bisa aku saja yang kau pandang sebelum dan sesudah tidur? 
Apa tak bisa aku saja yang memenuhimu?
Mungkin malam ini aku akan merayu Tuhan dan membiarkan diri rebah dalam peluk-Nya.



No comments:

Post a Comment