7.24.2017

Doa itu cinta (day 19 #30dwc)

Dear Pemalas yang Kreatif...

Kita bertemu lagi dengan tanggal yang terkadang aku lupa dan bulan yang berbeda di bulan ke-10 menyatukan hati, kali ini sedikit berbeda dari bulan -bulan lain, tak ada sapaan manis atau petikan gitar seperti bulan kemarin atau luapan canda tawa yang berujung i love you!

Tuan, Rasanya kali ini aku tak percaya dengan pergeseran waktu yang mampu menggeser hatimu, mengurai sayang yang mungkin bisa terbang dan tak ingin berlama lama di hati, atau cinta yang tak terdefinisi yang membuatmu goyah dan merusak susunan puzzle yang telah kita susun bersama.

Harusnya aku bisa sepertimu, menurunkan kadar sayang, sedikit mengabaikan dan melupakan hal kecil. tapi nyatanya Hati ini penuh dengan kamu dan masih berdiam disini menikmati sisa cinta yang kau sisakan, menikmati setiap sapamu yang mulai hambar.

Suaranya yang paling kuingat, ekspresi wajahnya yang kadang membuatku senyum sendiri, apalagi ketika dia harus mengumpulkan photo dan tak ada satupun poto yang masuk kriteria, aku menularkan sedikit kenarsisanku, menyuruhnya bergaya dan teriak ketika senyumnya terlalu datar, dan lewat percakapan jarak jauh, menjelang tidur aku masih mendengar suara bidikan kamera, sepertinya virus itu mulai bereaksi ucapku dalam hati sambil tersenyum membayangkan dia bernarsis tengah malam seorang diri, dan pagiku disambut dengan wajah narsismu yang kau kirim!

Di sebuah dunia kecil, tempat biasa kita bertemu, melepaskan rindu dan melakukan hal hal yang kita suka, aku merangkai kata setiap perasaan dan menyapa setiap apa yang ada dalam pikiranku saat itu, sementara kamu sibuk dengan gitarmu dan menghasilkan nada yang selalu aku suka, terkadang karya kami menyatu dan menghasilkan senyuman yang sangat puas, hal sederhana yang membuat kita begitu memilki dan takut untuk kehilangan.

9 Februari, 2 hari menjelang bulan ke-10 kita, entah angin apa yang masuk ketelingaku dan Tuhan seakan mengajakku berdiskusi, "Jika kamu ingin dia sepenuhnya dan mewujudkan semua mimpi mimpi yang selalu berulang kalian ucapkan menjelang tidur, sekarang saatnya menghadirkan kejujuran ditengah hubungan ini" ucap-Nya yang seakan memberiku semangat.

Aku menatap layar perbincangan kita, dan suaramu mulai terdengar masih hangat dan memberikan kenyamanan, kucoba berandai andai dan memisalkan sesuatu yang buruk, "ga akan pernah ada yang berubah, cinta ini akan terus bertambah, dan sayang ini akan terus tumbuh" katamu meyakinkanku,

aku dengan keterbataan mulai mengatur dan menata setiap ucap yang keluar dari mulutku, kau masih terdiam dan menjadi pendengar yang baik sampai nafasku yang mulai tak bersahabat, suaraku yang mulai samar karena mata ini seakan menjadi saksi mulai membanjiri dunia kecil kita, cukup lama terdiam dan aku tak mendapat signal semua akan baik baik saja darimu.

Demi Tuhan, aku tak pernah menyangka bisa jatuh cinta sama kamu, mengabaikan semua kriteria yang selalu aku jadikan patokan jika ada orang yang ingin masuk ke hati aku, tapi ini tidak berlaku buatmu, kamu berhasil mendarat sukses di hati aku. Jika memang Tuhan tidak setuju dengan jalan kita, harusnya aku tak perlu berkenalan denganmu, harusnya rasa itu tak perlu nyasar di hati dan Tuhan kenapa terlalu lama membiarkan rasa ini tumbuh kemudian menggambilnya lagi, harusnya ada alarm cinta yang berbunyi ketika cinta ini salah dan mengingatkan kami.

Kali ini aku mengamati KITA yang dulu, rasanya terlalu cepat rasa itu berubah, merasakan perasaan aneh, setiap hari rasanya begitu berbeda dan tak lagi sama, mungkin kemarin aku hadir mengisi lembaran hitam dan putih yang kamu miliki, mewarnai setiap sudut kertas itu agar berwarna, setiap percakapan kita semua terasa istimewa dan luar biasa.

setelah insiden jujur rasa pare itu terjadi,  aku semakin takut kehilangan kamu, merasakan siksaan yang berulang-ulang, kamu masih ada disini tapi aku tak merasakannya lagi,

Kenapa perhatianmu tak sedalam perhatianku, sayangmu tak sedalam sayangku.

salahkah jika aku selalu menjatuhkan air mata untukmu? aku lagi ngerasain kehilangan kamu, dan kamu kadang lupa melihat pesan yg aku kirim, atau lupa mengirim pesan mau ke lab, katamu kamu sudah menelponku tapi tak ada jawaban, ingin rasanya menyandingkan keadaan ini dengan beberapa hari di bulan januari dan bulan sebelumnya, tentu berbeda maya!!! memangnya kamu siapa skr dimatanya? bodohh!!! hadir dalam mimpinyapun sudah cukup, jangan memaksa sesuatu yang bukan milikmu, syukuri saja sekalipun yang tersisa hanya kenangan.

pagi ini Playlistku hanya berisi coveran suaramu dan lagu ciptaanmu untukku, tapi itu dulu, sekarang aku tak merasakan lagu itu buat aku, semalam kita sepakat untuk kembali seperti dulu, tapi aku tak yakin hatimu bisa kembali seperti dulu, subuh tadi sujudku terlalu panjang hingga membuat bekas air mata di sejadah masih basah, ntah ocehan apa yang kuucapkan, dan ketika tangan ini mulai menyatu dalam do'a masih ada nama kamu yang terucap.

Kali ini biarkan aku mencintaimu dalam kebisuan, mengamatimu dari jauh dan memelukmu dalam do'a, andai Tuhan punya rencana itulah yang terindah.

Jika aku tak berkabar lagi bukan karena aku lupa, tapi aku tak bisa lagi menutupi rasa sayang ini, aku takut tumpah dan kelihatan lemah dihadapmu.

_____________________________________________________________________


Tuan, kalau saya bisa ngomong dengan Tuhan, saya juga tak ingin dipertemukan denganmu; yang kemudian mengacak acak hati dan hidupku

No comments:

Post a Comment