2.12.2017

Pengadilan Rindu (#30dwc hari ke-12)

Dear Tuhan...

sudah sekian purnama kulewati, aku menikmati setiap muntahan di sekitarku, sudah ribuan musim berlalu dan luka yang kau lemparkan telah meluka dan harusnya sudah sembuh.

Ada waktu yang sudah dipersiapkan merindukanmu, lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Sebab kita sudah terpisah oleh sekat yang bernama jarak, rasanya ingin menarikmu ke pengadilan rindupun aku malu. Selama ini aku menabung gengsi, egois, cemburu dan rindu yang sudah penuh. 
Ada yang beda dengan caraku menikmati hujan soreh ini, mataku ikut membasahi pipi dan suaraku lebih dulu bernyanyi dalam kerongkongan kesepian. 

Harusnya kupecahkan saja celengan ini, biar tuntas saat ini juga, biar rindu bisa sedikit bernafas. Harusnya kita bisa mengabaikan kerikil dalam kesetiaan, memang tak mudah sayang, tapi percayalah, doaku tak pernah sepi membalut namamu.

Mungkin masih banyak aksara yang harus kukenal, angka yang masih asing dalam jarak, bahkan bintangpun terkadang enggan bersama malam, lalu.. akan kuapakan rindu ini?

Lihat, kali ini aku terpaksa menyeretmu dalam persidangan rindu, hati ini tak bisa lagi kuajak negosiasi prihal kesibukanmu atau caramu melupakanku. Disidang kali ini, rindu terpaksa kita gantung, kubiarkan dia mati perlahan dan terserah saja jika dia ingin bangkit lagi.

Kini bola mata kita tak lagi saling beradu, kita menyulam kisah dalam purna yang tak akan pernah usai.
Karena Tuhan menciptakan ingatan, biarlah hati ini yang sepenuhnya merasakan.


No comments:

Post a Comment