6.14.2017

Detik yang tak berdetak (day ke-2)



Harusnya kubuang saja rintikan kenangan yang menghujaniku, menutup mata agar tak menangkap rupa dalam gelindingan detik yang tak mengenal detak. Akan ada penjelasan atas apa yang tidak bisa kuselesaikan sendiri.
 
Percayalah Sayang, mimpi yang kau cetak tebal di halaman depan buku catatanmu akan membawamu melesat sampai ke sana. Ke tempat yang ingin kau tuju. Maka salahkah bila Allah sokong IQ selevel Albert Einsten untuk mereka yang terobsesi pada inovasi tingkat mahir? Atau Allah modali panjang hati bagi ia yang bercita-cita menjadi Ibu asuh di panti? Mulai tahu kan mengapa banyak sengketa perihal ini dan itu ditaruh begitu saja di pundakmu? Menjeratmu pada pasal demi pasal yang berakhir di meja hijau buatan massa penganut hukum rimba.

Mengamati hati yang enggan berbalik, mencumbu akal agar bisa kuajak kompromi, harusnya diri bisa lebih mawas dalam lejitan waktu

Ada Tuhan yang menggerakkan tangan, kaki, juga hati. Ada doa yang begitu hebat menjalar sampai ke nadi. Selanjutnya biar suratan yang membawamu kembali kemari, kalau memang akulah yang paling tepat melengkapi, kalau kitalah yang ditunjuk Tuhan saling menggenapi.

Jakarta, 18 mei 2017
Maya

No comments:

Post a Comment