7.20.2017

Perihal jodoh (day 15 #30Dwc)

Pembahasan tentang jodoh menjadi hal wajib dalam setiap perbincangan. Bahkan masing-masing dari kita memiliki kriteria tertentu. Jodoh juga bukan lagi sekadar gandengan tangan untuk diajak jalan, nonton, hangout dan makan saja. Lebih dari itu, kata jodoh yang terlintas dalam pikiran kita adalah sepaket dengan pernikahan. Seseorang yang bisa bersanding sampai ke pelaminan dan kelak bisa menemani sampai tua, untuk urusan memilih pasangan, pastinya jadi lebih berhati-hati.

Tiap orang juga biasanya punya sederet kriteria yang digunakan untuk menyeleksi kandidat dalam perjuangan mencari jodoh. Memang sudah semestinya semua orang berharap mendapatkan jodoh terbaik. Meski jalan yang kita tempuh beragam dalam menemukan jodoh, kriteria jodoh ideal tampaknya tak pernah jauh-jauh dari gambaran mirip pangeran negeri dongeng yang datang menunggangi kuda putih. Nah, biar impian itu bukan hanya sekedar impian, yuk tingkatkan kualitas diri kita karena jodoh bukan hanya milik negeri dongeng, bukan hanya sekedar siapa dia tapi ini aku yang sedang memperbaiki diri dan biarkan tangan Tuhan yang bekerja. Jodoh itu cerminan diri sendiri, jangan hanya berharap dapat yang terbaik kalau kamu belum berhasil jadi versi terbaik menurutmu.

Dear jodoh,

Jika jarak yang bernama sabar telah terbentang,  biarkan dzikir ini yang menguatkan. Ini bukan perihal semudah membalik telapak tangan atau mencoba sepatu yang bisa kita tukar jika tidak cocok,  ini perihal jodoh yang datangnya dari Tuhan,  berusaha dan berdoa adalah jalan yang harus di tempuh. 

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa, berpura dalam kepura-puraan yang mengajarkan aku harus kuat.
Tuhan, kali ini kubiarkan langit menatapku lebih lama, mungkin irama alam telah menyampaikan proposal jodoh yang belum Kau acc sampai sekarang.

Walau tak satupun yang bisa menjamin, biarkan aku melangitkan doa sekalipun namamu masih samar, wajahmu tak terjamah dan langkahmu masih tak terdeteksi.
Semisal yang kusebut dengan "engkau" masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.

Biarkan doaku lebur dalam penantian indah, kutunggu kau dalam waktu yang mencipta bahagia, ijinkan langkah ini menuju surga dalam jembatan halal-Mu

1 comment:

  1. Subhanallah, ini keren 😅😅
    Makasih self remindernya ka

    ReplyDelete