4.23.2018

Dialog malam (day 23 #30dcw)

Allah itu maha segala-Nya, malam ini saya mencoba berdialog dengan diri sendiri, meruntuhkan tanya yang sudah berdebu di pelipis otak. Sajadahku tidak basah seperti malam-malam kemarin, tapi hatiku gelisah menampung sesak yang tak jelas.

Tiba-tiba saja hati kecilku berbisik, Allah SWT mengetahui isi hati kita, niat dan apapun yang makhluk-Nya perbuat. Apapun itu tanpa terkecuali.

Percayalah bahwa setiap manusia itu punya masalahnya masing-masing, punya kegundahan yang berlipat bahkan kepura-puraan yang abadi. hanya saja tidak semua manusia merasa nyaman memperlihatkan keadaannya yang sebenarnya.

Allah yang Maha Pemurah,dan Penyayang selalu memberikan apa yang kita perlukan, bahkan saat kita bermaksiatpun Allah masih kasi kita rizki, Allah masih kirimkan oksigen, Allah masih izinkan kita bernafas, Bahkan Allah masih berkenan memangil-manggil kita dengan lembutnya, “Wahai hambaku, bertaubatlah…” Betapa Allah sangat mencintai hambanya, betapa signal dari-Nya terkadang kita abaikan, bahkan tersadar tapi berpura-pura lupa.
Lihat, betapa Allah masih sabar dengan segala perbuatan dan perilaku kita, Allah masih memberikan kesempatan… “Kalau kita bermaksiat di siang hari, Allah masih sediakan malam hari untuk bertaubat, kalau kita bermaksiat dimalam hari, Allah masih sediakan siang untuk kita bertaubat, betapa lembut dan besar kasih sayang Allah pada kita”

Allah menutup aib kita, sama dengan kado dari Allah untuk kita. Ketika Allah menutup aib-aib kita, tandanya Allah memberikan hadiah bagi kita, smile emoticon Buktinya? karena memang banyak orang yang tidak diberi hadiah ini, banyak yang ditampakkan aib-aibnya.. •


 Allah menutup aib kita dalam waktu yang lama, setiap manusia bisa jadi berbuat salah. Maka berusahalah keras untuk menutupi aib-aib diri kita secara pribadi dan jangan ikut-ikutan membuka aib siapapun

Kalau auratnya badan (jasad) adalah pakaian, maka auratur-ruh adalah dosa, dan maksiat-maksiat kita. Lantas, siapa yang tega membuka jilbab, atau pakaian saudaranya? Tentu tidak akan ada. Begitulah, menyimpan aib saudara, kita akan melindungi, menjaga aurot ruhnya..
“Seluruh umatku diampuni, kecuali orang yg mujahirin (membuka aibnya)”
-muttafaqun alaihi-

Sehingga perlulah kita untuk ‘nurroqif nafsana’ (mengawasi diri kita), sadar dengan kesalahan dan kelemahan diri kita sehingga kita bisa terus memperbaiki diri.. Akh, Allah... Maafkan saya, seorang hamba yang terkadang melebihi fungsi Tuhan, memiliki ego yang sangat tinggi tanpa perduli dengan akhirat. Jangan pernah lepaskan pelukan ini ya Rabb, biarkan malam menjadi saksi bahwa diri ini begitu kecil dan izinkan hamba mengukir jalan ke arah-Mu dengan benar

No comments:

Post a Comment