2.03.2017

Mataku meraba, hatiku merasa (#30DWC Hari ke-4)

Dear semesta, ...

tangisku pecah, tak kuhiraukan lagi sah apa tidaknya sholatku saat itu, bacaan al-quranku bergemuruh.

kukirimkan bait bait doa
lewat sujud panjangku
nafasku terasa berhenti di kerongkonganku
mata ini tak bisa berbohong, tatkala melihat dirimu menahan sakit
aku tak butuh dicubit atau bahkan ditampar untuk sekedar mengeluarkan butiran salju dimataku

pagi ini, aku mencoba berdialog dengan dinding kamar
kutatap lekat-lekat yang menempel disana
ada hawa yang mencoba mengajakku bercanda
aku kembali tersenyum, kemudian mengutuk kesedihan
"sudah cukup" ujarku pagi ini

Kembali kurapal harapan sembari membalutmu dalam ribuan pengharapan
aku bukan lelah Tuhan, aku hanya minta dikuatkan dalam setiap langkah 
naluriku butuh diasah, bukan karena tumpul tapi terlalu sering memeluk kepedihan sehingga tak kuhiraukan lagi yang namanya kuat

Langkahku, iya langkahku...
bukan terhenti tapi mencoba menelusuri pintu yang mana yang harus kulalui
tanganku meraba,sementara mataku mengawasi tiap kedip disekitarku

Kita tidak sedang sendiri, dalam perihmu, dalam airmata, tawa ataupun jatuh kemudian berdarah, ada Tuhan yang selalu mengawasi, ada hati yang selalu berbisik bahwa sabar itu manis, ada hadiah yang sedang menunggumu

aku akan tertawa secukupnya, dan menangis secukupnya, semoga Tuhan kali ini mengirimkan secangkir kopi dari langit


 

No comments:

Post a Comment