7.12.2017

Teori jodoh (day3 #30dwc)

Kau juga tahu, diam-diam doaku menjalar tak henti, terus bernyanyi sampai kutahu ada yang doanya lebih merdu dariku.

Soal hati, kita tidak pernah diberitahu apa yang akan ia rasakan bahkan untuk satu detik mendatang. Soal jodoh, apa aku harus berteriak mencari si jodoh atau harus mewawancarai pasangan mesra yang kemudian bercerai? Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi semenit kemudian, bisa saja si sholeh datang bertamu dan mengajak ke KUA untuk membantunya mengabadikan moment sahabatnya, atau anak tetangga yang tiba tiba akrab atau bahkan cucu raja salman yang tiba tiba ngirim dm di instagram.

Aku mengingat, kau melalai. Kau berisyarat, aku mengabai. Siapa yang bisa menyangka? Dan kalau tiba-tiba kau mengingatku, sampaikan pada Allah, kirim signal melalui do'a Sebab mungkin itu pesan yang kubisikkan pada-Nya untuk kaurasakan. Bila pertemuan belum disempatkan, bila hati belum luluh, biar Tuhan jadi pihak ketiga dalam urusan kerinduan. Dan kita saling berhamburan dalam pelukan setelah dihalalkan. Entah dengan siapa kita nanti, biar perasaan ini menyingkir dengan sendiri. Sebab ilmuku terlalu sedikit untuk paham teori jodoh. Pengetahuanku teramat dangkal untuk bicara perkara jodoh. Bukankah lebih baik membiarkan segala diatur atas kehendak Allah?

Ijinkan aku malam ini menjadikanmu satu satunya bahan yang akan aku bahas dengan-Nya, ini bukan kali pertama tapi semoga ini pertama kalinya Allah menuntunku kearah yang lebih baik, termasuk prihal jodoh.
Dan sepagi dini tadi aku menemukan telepon genggamku dalam dua fungsi: pengingat dan pengenang. Semoga saja hati ini lebih sabar dan ikhlas

Aku yang memang seharusnya cepat-cepat bangun dari ingatan-ingatan layaknya kenangan. Dan kamu melakukannya, membangunkan aku dari tidur

Aku yang memang seharusnya cepat-cepat bangun dari ingatan-ingatan layaknya kenangan. Dan kamu melakukannya, membangunkan aku dari tidur panjang; dari mimpi yang tinggal bayang-bayang. Apabila rindu ini jatuh pada waktu yang salah dalam perasaan yang salah-kaprah, aku berharap segalanya dibenarkan oleh Allah melalui sesuatu yang absah. Sebab hatiku ini jadi begitu lemah bila berbenturan dengan rindu, maka perasaan itu selalu kujadikan perbincangan dengan Tuhan; dengan doa, setelah sujud dalam sholat.

Perasaan yang tidak akan pernah bisa kamu hentikan adalah cinta. Maka cintailah apapun itu yang membuatmu merasa semakin membutuhkan Allah, cintailah ia yang dengannya kautemui dirimu selalu merindukan Allah. Cintailah ia yang membuatmu selalu merasa tidak pantas, sehingga kamu tak pernah berhenti memperbaiki dan yang membuatmu tidak pernah puas, sehingga kamu terus bebenah diri.

Andai bisa, surat ini kulipat dan kujadikan pesawat-pesawatan lalu kuterbangkan bersama hembus angin yang entah bermuara ke mana. Biar tak lagi mengendap di dadaku. Atau kubungkus dengan koran, biar jadi bacaan setiap mata. Boleh juga, kumasukkan dalam karung, biar hancur tertusuk-tusuk layaknya melihat pernikahan muzammil pagi kemarin yang begitu syahdu

No comments:

Post a Comment