Dear You...

Jangan membuat Tuhan cemburu yah!!!

7.12.2017

Makrifat kerinduan (Day5 #30dwc)

Bayangkan…
Betapa hebatnya bila setiap komponen tubuh manusia dapat berzikir kepada Allah


Bayangkan, bila alam turut serta mengaminkan setiap doa dan harap
Dari mulai kaki sampai pucuk rambut kepala
Nama Allah telah termaktub dalam setiap dzikir ke semua anggota tubuh
Setiap hembusan angin, kicauan burung dan signal dari langit
Sempurna…

Semoga bisa untuk selamanya nan abadi di dalam tubuh kita
Semoga bisa melafadzan setiap detik asma-Nya
Kita tak menginginkan hilang
Ya Rabb, I Love You

Ma’afkan aku bila terlalu lancang mengatakan hal itu
Karena aku masih punya dosa yang tak tahu batasnya
Mungkin sebesar gunung itu
Aku sungguh-sungguh mencintai-Mu Ya Allah

Mungkin raga ini tertatih menuju-Mu
Dosaku berhamburan sementara pintaku berserakan di mana-mana
Rabb... Mungkin jalanku tak semulus mereka tapi ijinkan hamba lebur dalam peluk-Mu

Hati ini kering, tandus akan nafsuh dunia, serakah akan kemewahan dan selalu saja mempunyai alasan mengabaikan semua surat surat-Mu
Bukan karena waktu ya Rabb, tapi hati ini terkadang lupa ketika bahagia, ketika tawa lebih dahulu memelukku ketimbang bersyukur

Entahlah... Angin apa yang sudah kuciptakan, aku menangis sejadi jadinya ketika kecewa menerpaku, aku membanjiri sajadah dan berharap Kau menolongku. Dzikirpun tak pernah lepas dari mulutku, terkadang aku merasa orang yang paling terpuruk di dunia.

Ya Rabb... Lewat angin malam dan semesta, ijinkan aku kembali kepada-Mu, tuntunlah hamba agar tak menjadi serakah dan lupa akan diri.
Menghiasi rindu dengan hidupnya jiwa yang menyandra
Menyandra dalam penjara Allah
Bercinta di dalam hakikat alam malakut
Mencebur nan menyelam ke dalam samudra ma’rifat terhadap-Nya
Lantunan sufi masa kini
Membuahkan imajenasi
Mencari dan merayap menuju Ya Ilahi.

Mencari dan merayap menuju Ya Ilahi
Allahu Akbar
Subhanallah
Alhamdulillah
Begitulah nada lantunan untuk menikmati keindahan Tuhan kita
Tanpa batas untuk bercinta kepada-Nya
Sungguh terlalu sempurna pada zaman ini bila manusia sering bersabat dan mencintai Allah
Di setiap detik sampai detik.

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Diam dan enyahlah (Day4 #30dwc)

letih aku,
dalam rasa yang menerkam
karena aku tahu
rasaku tak mungkin beradu
Setiap ku melihatmu
tak bisa ku berhenti
bersajak, berbisik merangkai mimpi
tentangmu yang terus diam
dan segala rasaku yang harus padam !


Sebelum kau remukkan hatiku
sebelum kau matikan rasaku
berhenti kau berhentilah
tersenyum di depanku
cukup sudah kau memaksaku menangis
 

Jangan lagi menoreh luka
karna cinta ini menghancurkanku
ku mohon pergi menjauhlah dariku
beri aku waktu
untuk menghapus bayangmu
atau sekedar menyimpan
segenggam cinta darimu
dan membiarkan semua berlalu

derak langkah menjauh
mencuri lirik dalam sunyi
dari perasaan yang mulai jenuh
aku tersisih menepi
 

Terbingkai sorot matamu
mengusik sepi yang mendaki
berlalu tak menyatu
mengering dalam hening
 

Beralun mengharu syahdu
terasa dalam diam
berayun mengganggu
mengadu pesona asmara
 

Gelora berbaur merdu
merajalela tak karuan!
membuat kalbu merenung
tersenyum membungkam

perih dan rapuh jika berjarak dengan-Mu 

Labels: , , , , , ,

Teori jodoh (day3 #30dwc)

Kau juga tahu, diam-diam doaku menjalar tak henti, terus bernyanyi sampai kutahu ada yang doanya lebih merdu dariku.

Soal hati, kita tidak pernah diberitahu apa yang akan ia rasakan bahkan untuk satu detik mendatang. Soal jodoh, apa aku harus berteriak mencari si jodoh atau harus mewawancarai pasangan mesra yang kemudian bercerai? Kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi semenit kemudian, bisa saja si sholeh datang bertamu dan mengajak ke KUA untuk membantunya mengabadikan moment sahabatnya, atau anak tetangga yang tiba tiba akrab atau bahkan cucu raja salman yang tiba tiba ngirim dm di instagram.

Aku mengingat, kau melalai. Kau berisyarat, aku mengabai. Siapa yang bisa menyangka? Dan kalau tiba-tiba kau mengingatku, sampaikan pada Allah, kirim signal melalui do'a Sebab mungkin itu pesan yang kubisikkan pada-Nya untuk kaurasakan. Bila pertemuan belum disempatkan, bila hati belum luluh, biar Tuhan jadi pihak ketiga dalam urusan kerinduan. Dan kita saling berhamburan dalam pelukan setelah dihalalkan. Entah dengan siapa kita nanti, biar perasaan ini menyingkir dengan sendiri. Sebab ilmuku terlalu sedikit untuk paham teori jodoh. Pengetahuanku teramat dangkal untuk bicara perkara jodoh. Bukankah lebih baik membiarkan segala diatur atas kehendak Allah?

Ijinkan aku malam ini menjadikanmu satu satunya bahan yang akan aku bahas dengan-Nya, ini bukan kali pertama tapi semoga ini pertama kalinya Allah menuntunku kearah yang lebih baik, termasuk prihal jodoh.
Dan sepagi dini tadi aku menemukan telepon genggamku dalam dua fungsi: pengingat dan pengenang. Semoga saja hati ini lebih sabar dan ikhlas

Aku yang memang seharusnya cepat-cepat bangun dari ingatan-ingatan layaknya kenangan. Dan kamu melakukannya, membangunkan aku dari tidur

Aku yang memang seharusnya cepat-cepat bangun dari ingatan-ingatan layaknya kenangan. Dan kamu melakukannya, membangunkan aku dari tidur panjang; dari mimpi yang tinggal bayang-bayang. Apabila rindu ini jatuh pada waktu yang salah dalam perasaan yang salah-kaprah, aku berharap segalanya dibenarkan oleh Allah melalui sesuatu yang absah. Sebab hatiku ini jadi begitu lemah bila berbenturan dengan rindu, maka perasaan itu selalu kujadikan perbincangan dengan Tuhan; dengan doa, setelah sujud dalam sholat.

Perasaan yang tidak akan pernah bisa kamu hentikan adalah cinta. Maka cintailah apapun itu yang membuatmu merasa semakin membutuhkan Allah, cintailah ia yang dengannya kautemui dirimu selalu merindukan Allah. Cintailah ia yang membuatmu selalu merasa tidak pantas, sehingga kamu tak pernah berhenti memperbaiki dan yang membuatmu tidak pernah puas, sehingga kamu terus bebenah diri.

Andai bisa, surat ini kulipat dan kujadikan pesawat-pesawatan lalu kuterbangkan bersama hembus angin yang entah bermuara ke mana. Biar tak lagi mengendap di dadaku. Atau kubungkus dengan koran, biar jadi bacaan setiap mata. Boleh juga, kumasukkan dalam karung, biar hancur tertusuk-tusuk layaknya melihat pernikahan muzammil pagi kemarin yang begitu syahdu

Labels: , , , , , , , , , , , ,

6.14.2017

Sudut yang berbeda (day 1)

Sudut yang berbeda (day 1 )
 
Image result for sudut kehidupanTerduduk di sudut ruang engan gerimis 
yang tak lagi bisa disebut rerintik, membuatku mulai mengerti. Bahwa lebih baik tulus dalam membenci ketimbang berpura-pura mengasihi: padanya yang lalai pada hak orang lain. Apalagi dalam konstelasi cinta. Dan angka dua sebut saja khianat serta orang ketiga sebut juga penggoda tidak lagi punya kelayakan atas keutuhan afeksi yang murni.

Lelehan air mata yang suka tiba-tiba menderas begitu saja adalah bukti bahwa luka itu masih juga menertawakan kepayahanku menerima takdir Tuhan. Mengikhlaskan satu masa yang direnggut tepian jingga, menggenangkan sisa hujan berbayang petang. Dan kesulitanku dalam memaafkan diri atas ingata-ingatan tentang satu ruang yang kauabaikan, yang kaudustai, yang sudah bisa disebut khianat oleh alam. Perlukah aku menceritakan ulang episode yang itu?

Baru saja, aku membaca tulisan panjang berjudul, "Aku Memilih Pergi karena Aku Mencintaimu." Dan berhasil membuat bulu-kudukku merinding sembari gemeretak gigiku makin kacau. Pernah aku menyuruhmu pergi untuk kembali pada wanita yang sudah lama bermain-main takdir di hatimu. Jauh sebelum aku menemukan bola matamu kosong di remang purnama malam itu.

Aku sudah melipat-lipat kenangan dengan begitu rapi, tapi memoar memaksa diri untuk bermunculan keluar dari sarang, membobol besi-besi yang susah payah kupasang di setiap celah dengan parang. Sudah itu lalu aku bisa apa?

Maka jika kuingat kembali rumus fisika sederhana bahwa aksi sama dengan re-aksi. Sekarang, aku tak mengapa bilasaja memang harus ada satu jiwa yang beroposisi denganku. Aku tak lagi kudu berfilantropis padamu, kan?  



Maya, Squad 6

Labels: , , , , ,

2.08.2017

sepenggal doa di awal Februari (#30DWC Hari ke-8)

 Februari dan semua harapan yang pernah tertunda, janji yang kutitipkan pada musim penghujan kini kembali menyapaku.

  Ditengah kemacetan ibukota aku mencoba membuka kembali harapan itu, tapi imajiku tak mampu menyatu dengan kenyataan yang ada. Tuhan merencanakan sesuatu untukku, aku tak meragukan-Nya, kuanggap ini adalah tangga yang harus kulalui untuk sebuah kelahiran yang baru. 
Bunyi klakson di mana-mana seakan membawaku pada februari tahun lalu, kita bertengkar hebat di dalam mobil di tengah keramaian ibukota, aku yang tak kuasa menahan amarah meminta turun ditengah jalan.

suatu sore di pertengahan februari, kau kembali mengetuk pintu hatiku, entah ingin bertamu atau sekedar mengintipku saja, kali ini kubiarkan kau menjadi tamu.
Suatu malam di akhir februari, kau menawarkan sebuah janji sepaket dengan rayuan keseriusan.

Usaha untuk memoles keharmonisan dalam hubungan kita mulai kandas, seminggu, sebulan bahkan setahun kabarmu tak juga datang, ribuan e-mail yang kukirim tak satupun kau balas, jarak kita sudah cukup jauh harusnya kau tak menambahnya dengan menghilang seperti ini, andai jakarta - belanda saat itu bisa kutempuh seperti jakarta -bandung mungkin aku sudah menelanjangi jarak itu.

Ada yang sering kali tak kita mengerti dari sebuah perjalanan, terkadang kita harus melewati jalan yang berliku, lurus bahkan tersesat, bukankah setiap manusia berhak mewujudkan harapannya? namun pada akhirnya setiap langkah memiliki cerita tersendiri dengan rasa yang berbeda.
Kita pernah menyusun bahagia, merangkai purnama yang masih sama tapi waktu terkadang tak berpihak dan merubah segalanya dalam hitungan yang tak terjamah. terkadang kita yang terluka, terkadang kita yang menciptakan luka.

Kini kunanti hadirmu dengan penuh sabar. Tuhan yang Maha Baik pasti telah merancang pertemuan kita dengan cerita manis. Tapi jika boleh meminta, aku ingin bertemu denganmu di februari kali ini (ucapku dalam hati).

Hati ini milik-Nya, dan hanya Dia yang sanggup menyusunnya kembali, aku hanya berharap semoga doa dan jalannya harapan mampu melewati hari yang tak selalu ramah. 
Kau mengajarkanku kehilangan, menguji setia bermandikan tanya, kau buat aku menerka dan hatiku semakin kuat. Doaku semakin kencang di awal februari ini. Aku melirik matahari di musim penghujan, mungkin hati ini tak membutuhkan hati yang baru, hanya minta diberi ketentraman hati.

Labels: , , , , , , , , , ,

6.08.2014

Angin

” Di langit mana pun kini engkau menatap, di sejuk angin membelai atau badai gurun mengepung. Pada dinding berlukis keindahan fajar, atau lantai sunyi berpalung mimpi. Aku ingin merangkai aksara, tentang hari-hari berwajah puisi. Tentang ketegaran senja, atau keteguhan Sang Angin. Tentang tawa yang berderai, atau air mata yang jatuh di sudut yang sepi. Tentang hati yang jatuh pada tatapan sehitam malam, tentang langkahmu yang sesaat singgah pada kelembutan wajah bertudung  selendang jingga. Aku ingin membingkai puisi sekali lagi,… Ini tentang carcinoma dan khemotheraphy …. yang sudah seenaknya mengajarkan kita menerima garis nasib… ”


Dear Angin,…
Sudah lama jemariku tak menulis tentangmu,
entah berapa kali almanak berganti.
Masih ingat catatanku tentang harapan ?
Tentang kepasrahan yang kau sebut ketegaran,
tentang vonis satu beriringan vonis yang lain,
pernahkah kau berfikir kusimpan dimana air mata dan ketakutan?
Aku membiarkannya terbang,
menggantung pada batas langit dan melayang sejauh aku memandang.
Sesaat saja kubiarkan menyesak di rongga dadaku,
sesaat kubiarkan mengaktifkan kelenjar air mataku,
aku merasakan sakitnya, tepatnya menikmati dan kuterima.
Lalu kubiarkan terbang dan menggantung di angkasa.
Biar Pemilik Semesta yang merengkuh,
yang menyembuhkan dan menawarkan nikmatnya kesakitan.

Dear Angin,…
Aku bukan sahabat yang slalu ada untukmu,
bukan kakak atau adik yang setia diberandamu.
Bukan teman yang slalu ada saat kau butuh bercerita.
Apalagi kekasih dan pujaan hati,
entah apa…
Kamu pun tidak tahu label apa untuk seorang senja,
begitu juga aku, entah apa kamu bagiku,..
dan aku bagimu.
Aku mungkin hanya shiluet,
yang hanya sesaat hadir ketika langit berwarna tembaga,
setelah itu hilang tergantikan malam dan pagi.
Dan kamu angin, yang berhembus kemana kau ingin.

Dear Angin,…
Aku tidak akan mengajarkanmu makna bertahan,
Kamu lebih tahu rasanya menahan beban.
Aku tidak akan berbisik tentang keikhlasan,
karena aku tahu betapa sulitnya berkata ikhlas,
dengan hati yang tanpa mengeluh dan mengaduh.
Aku tidak akan berucap  ” Sabarlah…”
Karena kesabaran akan hadir setelah penerimaan
dan penghayatan.
Aku tidak akan memaksamu untuk berjuang,
karena setiap diri punya batas kemampuan.

Dear Angin,…
Aku hanya ingin kamu tersenyum,
dengan senyuman terindahmu.
Aku hanya ingin kamu menerima,
dengan peneriman terbaik yang kamu bisa.
Aku hanya ingin kamu tetap bernyanyi dan menari,
mengabadikan aksara menjadi prosa, diksi atau puisi.
Aku ingin kamu tetap bermain dengan lensa,
Mengabadikan kecantikan mahluk hawa, keindahan panorama,
mengabadikan kebesaran semesta.

Dear Angin,…
Khemotheraphy dan operasi tidak sekeren yang orang bilang.
Kanker tidak sekuat itu,
sungguh Kanker tidak sekuat itu…!
Kanker mungkin akan mengenalkanmu dengan rasa sakit,
tapi kanker tidak akan mampu  mematikan impian,
kanker tidak akan mampu mengikis keyakinan,
kanker tidak akan mampu memutus persahabatan,
kanker tidak akan mampu mematikan jiwa,
kanker tidak akan mampu memupus harapan,
kanker tidak akan mampu menghapus kenangan,
kanker tidak akan cukup kuat melumpuhkan cinta….
Kanker tidak akan melemahkanmu.

Dear Angin,…
Aku mungkin tidak ada disana, bersama mereka yang menguatkanmu.
Tapi kamu ada di antara doa-doa yang melayang diangkasa,
doaku kepada Sang Maha…
Untuk kesakitan yang saban kali kurasakan,
juga untuk ketentuanNya yang sedang kau jalani.
Untuk Carcinoma yang entah mengapa mempertemukan kita lagi pada garis nasib
seorang penyintas , Senja dan Sang Angin …
Meski pada batas gelap dan terang,
meski pada sejuta harapan yang kita genggam.

Labels: , , , , , , ,

4.23.2014

dearKamu

DearKamu...!


Malam ini rindu turun patah patah

melingkari jiwa yang sedang memahat wajahmu

dan puing rindu itu menyatu dalam pahatan yang patah




Labels: ,

2.11.2014

Love is You





And it’s as if it were only yesterday
that we were in love and making promises
we were sure we would always keep
not knowing life would get the best of us
and lead us down paths separately

And it’s in those moments
that I miss you dearly
and wish we could begin again
Sometimes, it catches me by surprise
the way my heart will ache
as I recall your voice, your kindness
the smile on your face

And I wonder how life might be
if we were still together
Would we have kept our promises?
Would we be happy?
Would we have made it to forever?

I may never know the answers
to these questions
but I know this much is true:
No matter how much time passes
I will always love you

Labels: , ,

1.05.2013

cinta aku dan Tuhan

Aku tak hebat, namun Tuhanku hebat. Perjuangan Dia untuk mencintaiku, tak pernah kunjung usai. Cinta Tuhan sangat sederhana. Terkadang Dia diam saat kita bertanya “apakah Kau mencintaiku?” Lalu Dia akan memeluk kita tanpa berkata apapun. Terkadang Dia terkesan tidak peduli, namun sesungguhnya Dia hanya mempercayaimu saat kita menjalani hidup ini. Terkadang Dia seperti bersembunyi, namun diam-diam kita selalu ada dipikiranNya. Tuhan ingin kita bahagia, makanya Dia beri kebebasan sama kita untuk bahagia. Tuhan tidak menyuruh mencari kebahagiaan, karena kebahagiaan itu sudah ada di dalam kita sejak dulu. Setiap hari, Tuhan hanya mengingatkan bagaimana untuk mencintai. Karena cinta terlalu indah, maka terlihat menakutkan. Sesungguhnya cinta itu sederhana. Hanya merasakan maka kau akan tahu adanya cinta. Saat diam, cinta akan tetap berbicara. Cinta tidak pernah menuntut, namun cinta akan mengalir. Saat cinta terlihat menjadi ujian, takkan ada pernah kata terlambat untuk menghadapi dan mempelajarinya. Belajar mencinta sesama seperti Tuhan mencintai dirimu sendiri.

Labels:

Pidana Cinta

Apakah mencintai merupakan tindak pidana sehingga seumur hidupku dipenjara di sel hatimu dengan jendela sebingkai kesejukan kau pangeran sholeh di dalamnya aku terkurung dalam bahagia Bila tak jumpa semingg, hukuman bertambah dicambuk rindu dadaku penuh goresan namamu dan hatiku penuh cambukan wajahmu

Labels:

cinta

ketika cinta saja tak mampu satukan kita ketika cinta saja tak mampu membuatmu hadir di sisiku ketika cinta memberi ruang bagi yang lain di hatimu ku memilih doa entah berapa rapal doa kulantunkan atas namamu dan ketika cintaku saja tak cukup untukmu ku berharap Sang Maha Memberi Cinta juga memenuhimu dengan cintaNya

Labels: