Dear You...

Jangan membuat Tuhan cemburu yah!!!

2.25.2017

Istana hati (#30DWC Hari ke-25)

Dan sempurnahlah kisah cinta kita "Aku merindukanmu dan aku sendiri yang galau"  25 Februari di tahun yang telah lalu, aku pernah menangis, dan hampir gila akan dirimu, bak angin yang menggerakkan istana hatiku untuk berantakan . Emosi yang stagnan, pikiran yang terabsolut, jiwa yang seolah terkekang. Akulah yang mendapat peran itu, skenario Tuhan yang mungkin akan tayang saat aku mulai bisa membentuk lekukan indah di bibirku.

Sabtu di bulan yang sama, kau sempat mengirimkan surat kepadaku, suratmu terlalu samar kukecap hingga manis dan hambarnya terasa saat adzan maghrib berkumandang. Kubiarkan diri ini terbang dan menikmati atmosfir masalalu, kini mendung telah mengurung keluarga rindu di perbatasan waktu.
Rindu ini seakan membrontak, mungkin lelah berada di hati yang salah
apa aku harus kembali berumah dengan dosa termanis?
dulu... tangan ini sempat mengusap butiran salju saat kau meninggalkanku
tangan ini juga yang selalu menguatkanku saat Berdialog dengan Tuhan, 
rasanya tangan ini tak mampu menghitung butiran salju dan ribuan doa yang kupanjatkan pada pencipta, agar kita bisa kembali. Aku menginginkan cinta positif yang bukan menghadirkan butiran dosa di dalamnya
sebelum hari berganti, masalalu telah kukubur dan kubiarkan roh rohnya menghantuiku
kali ini aku tersenyum, dosa itu tidak pernah manis, yang ada pahit
dan.. kali ini rindu tak akan kusampaikan, kutitipkan pada Dia yang memiliki pasangan rinduku,
Entah kapan gantungan tanda tanya di langit itu akan hilang? 
Entah kapan kita bisa berada di pelabuhan yang sama?

Sabtu yang begitu Harmonis, dan doa-doa dalam menggapai cinta yang positif tidak akan pernah absen kupanjatkan.



Labels: , , ,

4.04.2016

jeritan

Jangan tanggung-tanggung menyakitiku!
"Ikatlah aku dalam gantungan cintamu, sekap aku dalam perhatian yang kau bagi dengan yang lain, biarkan aku hidup dalam janjimu yang palsu seumur hidupmu."

Labels: , , ,

6.08.2014

Angin

” Di langit mana pun kini engkau menatap, di sejuk angin membelai atau badai gurun mengepung. Pada dinding berlukis keindahan fajar, atau lantai sunyi berpalung mimpi. Aku ingin merangkai aksara, tentang hari-hari berwajah puisi. Tentang ketegaran senja, atau keteguhan Sang Angin. Tentang tawa yang berderai, atau air mata yang jatuh di sudut yang sepi. Tentang hati yang jatuh pada tatapan sehitam malam, tentang langkahmu yang sesaat singgah pada kelembutan wajah bertudung  selendang jingga. Aku ingin membingkai puisi sekali lagi,… Ini tentang carcinoma dan khemotheraphy …. yang sudah seenaknya mengajarkan kita menerima garis nasib… ”


Dear Angin,…
Sudah lama jemariku tak menulis tentangmu,
entah berapa kali almanak berganti.
Masih ingat catatanku tentang harapan ?
Tentang kepasrahan yang kau sebut ketegaran,
tentang vonis satu beriringan vonis yang lain,
pernahkah kau berfikir kusimpan dimana air mata dan ketakutan?
Aku membiarkannya terbang,
menggantung pada batas langit dan melayang sejauh aku memandang.
Sesaat saja kubiarkan menyesak di rongga dadaku,
sesaat kubiarkan mengaktifkan kelenjar air mataku,
aku merasakan sakitnya, tepatnya menikmati dan kuterima.
Lalu kubiarkan terbang dan menggantung di angkasa.
Biar Pemilik Semesta yang merengkuh,
yang menyembuhkan dan menawarkan nikmatnya kesakitan.

Dear Angin,…
Aku bukan sahabat yang slalu ada untukmu,
bukan kakak atau adik yang setia diberandamu.
Bukan teman yang slalu ada saat kau butuh bercerita.
Apalagi kekasih dan pujaan hati,
entah apa…
Kamu pun tidak tahu label apa untuk seorang senja,
begitu juga aku, entah apa kamu bagiku,..
dan aku bagimu.
Aku mungkin hanya shiluet,
yang hanya sesaat hadir ketika langit berwarna tembaga,
setelah itu hilang tergantikan malam dan pagi.
Dan kamu angin, yang berhembus kemana kau ingin.

Dear Angin,…
Aku tidak akan mengajarkanmu makna bertahan,
Kamu lebih tahu rasanya menahan beban.
Aku tidak akan berbisik tentang keikhlasan,
karena aku tahu betapa sulitnya berkata ikhlas,
dengan hati yang tanpa mengeluh dan mengaduh.
Aku tidak akan berucap  ” Sabarlah…”
Karena kesabaran akan hadir setelah penerimaan
dan penghayatan.
Aku tidak akan memaksamu untuk berjuang,
karena setiap diri punya batas kemampuan.

Dear Angin,…
Aku hanya ingin kamu tersenyum,
dengan senyuman terindahmu.
Aku hanya ingin kamu menerima,
dengan peneriman terbaik yang kamu bisa.
Aku hanya ingin kamu tetap bernyanyi dan menari,
mengabadikan aksara menjadi prosa, diksi atau puisi.
Aku ingin kamu tetap bermain dengan lensa,
Mengabadikan kecantikan mahluk hawa, keindahan panorama,
mengabadikan kebesaran semesta.

Dear Angin,…
Khemotheraphy dan operasi tidak sekeren yang orang bilang.
Kanker tidak sekuat itu,
sungguh Kanker tidak sekuat itu…!
Kanker mungkin akan mengenalkanmu dengan rasa sakit,
tapi kanker tidak akan mampu  mematikan impian,
kanker tidak akan mampu mengikis keyakinan,
kanker tidak akan mampu memutus persahabatan,
kanker tidak akan mampu mematikan jiwa,
kanker tidak akan mampu memupus harapan,
kanker tidak akan mampu menghapus kenangan,
kanker tidak akan cukup kuat melumpuhkan cinta….
Kanker tidak akan melemahkanmu.

Dear Angin,…
Aku mungkin tidak ada disana, bersama mereka yang menguatkanmu.
Tapi kamu ada di antara doa-doa yang melayang diangkasa,
doaku kepada Sang Maha…
Untuk kesakitan yang saban kali kurasakan,
juga untuk ketentuanNya yang sedang kau jalani.
Untuk Carcinoma yang entah mengapa mempertemukan kita lagi pada garis nasib
seorang penyintas , Senja dan Sang Angin …
Meski pada batas gelap dan terang,
meski pada sejuta harapan yang kita genggam.

Labels: , , , , , , ,

1.30.2014

#Challenge day 2: Cinta itu aku

Ngebahas masalah cinta tidak akan pernah ada Habisnya, dan mungkin banyak yang parno ketika melihat postingan dengan Judul CINTA di blog atau bahkan antusias, karena cinta itu sebenarnya adalah kepo.!!! STOP, saya tidak akan membahas ini

di hari ke-dua ini sengaja pikiran liarku dibatasi dengan Tema Cinta, atas nama cinta aku mencoba menahan kantuk yang mulai menyerangku, tepat pukul 23:54 dan nafsuh menulisku seakan lenyap, cinta itu bisa mendominasi seseorang menjadi aneh, menjadi sempurna dan menutupi kecacatan, cinta itu besar, sangat sulit di prediksi dan cinta itu RIBET!

aku bukan orang yang phobia sama cinta, dan kali ini entah aku malas berbaur dengan tulisan cinta dengan lawan jenis, bukan karena kisahku yang mulai semraut dan melebar tapi kali ini aku mengartikan cinta itu aku, ya... cinta itu AKU karena aku itu CINTA

Cinta itu bijaksana, aku terkadang tidak adil pada diriku, membiarkan diriku kelelahan, tersakiti karena ulahku sendiri, dan terjatuh karena aku tidak pernah siap, andai Khalil gibran masih hidup dia mungkin akan menamparku dengan filsafat cintanya, bagaimana mungkin aku bisa memperhatikan dan menyayangi orang lain sementara diriku sendiri terkadang hilang dan tak kumengerti

Terkadang aku mengutuk ketika tangan berbuat salah atau langkah kaki yang mulai lunglai, bahkan menatap sinis wajahku di cermin tatkala aku gagal, aku sibuk memuji orang lain dan selalu saja ada cela untuk memperhatikan orang lain kemudian menganggap diriku aneh jika tak bisa seperti mereka.
Kali ini atas nama cinta para pendahulu yang telah mengajarkan kebijaksanaan, aku ingin menyiram diriku dengan wangi surga dan melapangkan hatiku seluas langit, aku tak sempurna tapi cinta membuatku sempurna, andai cinta bisa kuajak duduk minum kopi malam ini, mungkin akan kuborgol langsung tangannya dan memasungnya dalam kamarku sebagai tawanan hatiku, akan kucambuk dia agar bisa mengajariku dan membuat mata hatiku terbuka betapa egoisnya ego yang yang selama ini memelukku

Maafkan aku diri, mungkin aku hanya bagian dari kerikil yang akan hanyut entah kemana, semoga Hati dan diriku bisa merasakan kebebasan atas tawanan ketidakadilan selama ini yang telah kuperbuat.

Cinta, aku ingin mengajakmu mengukir masa depan di langit bertemakan kesuksesan dan akan ku mute agar tak ada angin yang sanggup menggoyangkannya, mungkin akan pudar tapi akan kulaminating dan kubuatkan peti terbuat dari emas. Mungkin sekarang aku sedang berlari mengejar ribuan ketertinggalanku dan entah kapan aku berada di garis finish seperti mereka, semoga cinta selalu bersamaku, menguatkanku dan bersamaku ketika tersesat, ada Tuhan di dalam Cinta, dan ada aku di dalam Cinta, semoga Tuhan selalu menguatkanku untuk sampai ke garis finish, kali ini aku tidak mengeluh dan semmoga tidak akan ada keluhan yang keluar dari body languageku!

Trimakasih Cinta, tentangmu yang tak akan pernah mati, tentangmu yang tak pernah habis walau ribuan orang menulis tentangmu karena misteri cinta itu selalu menjadi pil dalam kehidupan yang sulit ditebak!

sudah malam, dan omonganku mulai ngaco, mulai berhalusinasi dengan dengan tembok dan bantalpun mulai cemburu karena waktu kencanku dengan dia berkurang, .. ciao





Labels: , , , , , ,